STANDARISASI LARUTAN NaOH

STANDARISASI LARUTAN NaOH

I. TUJUAN 
 Praktikan mampu melakukan analisis secara titrimetri dengan metode Asidi-Alkalimetri menggunakan titrasi asam-basa untuk menentukan konsentrasi asam atau basa.
 Praktikan dapat memahami cara menghitung jumlah analit dari contoh beserta satuan yang tepat.
II. DASAR TEORI
Kesetimbangan asam basa sebagai dasar metode asidi-alkalimetri merupakan topik yang sangat penting dalam kimia maupun bidang pertanian, biologi, dan obat-obatan. Titrasi asam basa merupakan teknik yang sangat banyak digunakan untuk menetapkan secara tepat konsentrasi asam atau basa dari suatu larutan, sebagai nforamasi yang banyak dibutuhkan. Titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan dari suatu reaktan yang dibutuhakn untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah tertentu lainnya. Dalam titrasi asm basa, ujmlah relatif asam dan basa yang diperlukan untukemencapai titik ekuivalen ditentuksn oleh perbsndingsn mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi.
(Ibnu,Drs,M.Sodiq dkk.Kimia Analitik I(Malang:JICA,2004).hlm:99-100)
Dengan kata lain, pada titrasi asam basa jumlah ekuivalen asam sama dengan jumlah ekuivalen basa. Hal itu dapat dituliskan sebagi berikut:




(Ir. Parning dkk.1998.Kimia Kedokteran edisi 2.Bina Rupa Aksara:Jakarta.)
Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasr untuk titrasi, karena suatu reaksi harus mememnuhi syarat tertentu sebelum dapat digunakan , yaitu:
1. Reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi tertentu. Harus tidak ada reaksi samping.
2. Beberapa cara harus tersedia untuk menentukannnya apabila titik ekuivalen didapat.suatu indikator harus ada atau beberepa car instrumental dapt digunaka untuk mengatakan kepada analisis apabila harus berhennti dengan penambahan titran.
4.Diharapkan bahwa reaksi berlangsung cepat sehingga titran dapat berlangsung dalam beberap menit. (R.a. Day,JR dan A.L.,Underwood, Analisi Kimia Kuantitatif, Jakarta:Erlangga, 2002.)
Dalam titrasi asam basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekuivalen. Pada saat tercapai titik ekuivalen penambahan sedikit asam atau basaakan menyababkan perubahan pH yang sngat besar. Perubahan pH yang besar ini sering kali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator, yaitu suatu senyawa (organik) yang akan berubah warnanya dalam rentang pH tertentu. Titik atau kondisi penambahn asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi sering disamakan sengan titik ekuivalen, walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. (Ibnu,M.Sodiq dkk.2004)
NaOH (Natrium Hidroksida Padat) digunakn untuk meleburkan sapel yang bersifat asam atau amfoter, seperti SiO2, silikat dan oksidadari Sn, Al, dll. Natrium hidroksida umumnya trkontaminasi oleh sejumlah pengotor, yang paling serius diantaranya adalah natrium karbonat. Ketika karbonat diserap oleh larutan NaOH, reaksi ini terjadi
CO2 + 2OH- → CO32- + H2O
Ion karbonat adalah basa, tetapi ion ini bergabung dengan ion hidrogen dalam dua tahap :
CO32- + H3O+ → HCO3- + H2O (fenol ftalain)
HCO3- + H3O+ → H2CO3 + H2O (fenol ftalain)
Fenol ftalain berperan sebagai indikator untuk tahap pertam adalam titrasi, dan metil orange untuk tahap kedua. Titrasi NaOH selesai pada titik akhir fenol ftalain, dan hanya diperlukan satu atau dua tetes penambahan titran untuk mencapai titik akhir metil orange.
(R.A.Day, dan Underwood.2002.)

III. ALAT DAN BAHAN
3. 1. ALAT
 Buret
 Pipet volume 
 Erlenmeyer 250,0 ml
 Gelas kimia 
 Corong gelas
 Pipet tetes
 Statif
3. 2. BAHAN
 Larutan NaOH 0,01 N
 Larutan baku primer H2C2O4. 2H2O 0,0100 N
 Indikator PP





IV. CARA KERJA


→ Ambil menggunakan pipet volume
→ Masukkan dalam erlenmeyer
→ Ambil larutan NaOH 0,01 N yang akan distandarisasi
→ Masukkan ke dalam buret yang telah dibilas NaOH sebelumnya
→ Ambil larutan asam oksalat dalam erlenmeyer
→ Tambahkan 3 tetes indikator PP
→ Titrasi dengan larutan NaOH
→ Hentikan titrasi apabila warna merah permanen sudah terbentuk dalam larutan erlenmeyer
→ Catat volume NaOH 


V. DATA PENGAMATAN


Titrasi ke- Volume H2C2O4 2H2O 0,0100 N (ml) Volume NaOH (ml)
1 10,0 ml 21,00 ml
2 10,0 ml 20,00 ml
3 10,0 ml 17,50 ml
4 10,0 ml 22,40 ml
5 10,0 ml 21,50 ml
6 10,0 ml 18,50 ml
Rata-rata 10,0 ml 20,15 ml



 Perhitungan untuk mencari normalitas NaOH
Untuk volume rata-rata H2C2O4. 2H2O 0,0100 N 10,0 ml dan volume rata-rata NaOH 20.15 ml
N1V1 = N2V2


NNaOH = 





= 0,0051 N



VI. PEMBAHASAN


Untuk menstandarisasi larutan NaOH maka dalam percobaan ini menggunakan larutan asam oksalat H2C2O2. 2H2O sebagai larutan standarnya. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui ini merupakan reaksi asidi-alkalimetri asam basa antara asam oksalat dan basa NaOH. Volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi adalah 10,0 ml. Asam oksalat sebagai titrant yang diketahui berwarna bening dan NaOH sebagai titer yang berwarna bening pula, sebelum dilakukan titrasi kita masukkan 3 tetes indikator PP yang diketahui berwarna bening kedalam larutan asam oksalat agar pada saat titrasi dapat terjadi perubahan warna ketika mencapai titik ekuivalen yaitu titik dimana jumlah larutan asam oksalat sama dengan jumlah larutan pada NaOH yang diperlukan untuk bereaksi sempurna. Dalam titrasi ini kita menggunakan indikator PP karena fenol ftalain itu tergolong asam yang sangat lemah dalam keaadaan tidak terionisasi tetapi jika dalam lingkungan basa PP akan terionisasi lebih banyak dan dia akan memberikan warna yang terang dan perubahan warnanya lebih mudah untuk diamati

VII. KESIMPULAN


Dari percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Analisis volumetri dapat dilakukan apabila reaksinya berlangsung dengan cepat, tanpa reaksi samping, reaksi berlangsung kuantitatif.
2. Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa adalah indikator fenol ftalain (C26H14O4) karena perubahan warnanya lebih mudah untuk diamati.
3. Untuk menenetukan titik akhir titrasi dapat dilakukan atau dilihat ketika perubahan warna permanen pada indikator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar.
4. Dalam proses titrasi asam basa apabila sudah terbentuk warna merah permanen di dalam larutan yang ada di erlenmeyer maka titrasi harus segera dihentikan.
5. Pada penentuan konsentrasi NaOH, di dapatkan normalitas NaOH sebesar 0,0051 N. 


DAFTAR PUSTAKA


Day,R.A dan Underwood,A.L.Analisis kimia Kuantitatif.Jakarta:Erlangga,2002.
Ibnu,M.Sodiq.Kimia Analitik I.Malang:Fakultas MIPA Universitas Negeri 
Malang:2004.
Parning dkk.Penuntun Belajar Kimia 2A.jakarta:Yudhistira.










Standarisasi NaOH Serta Penggunaannya Dalam Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan




A.    Tujuan Percoban
Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan Molaritas dan Normalitas larutan NaOH
2.      Menetapkan kadar asam cuka perdagangan


B.     Landasan Teori
Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa) (Shochichah,2010).
Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator (Anonim,2009).
Titrasi asidi-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah, asam lemah-basa kuat, asam kuat-garam dari asam lemah, basa kuat-garam dari basa lemah. Titrasi ini menggunakan indikator pH atau indikator asam-basa sebagai penanda karena memiliki sifat dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Warna asam ialah sebutan warna indikator ketika dalam keadaan asam dan warna basa ketika dalam keadaan basa (Harjadi,1986).
Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif. Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas) (Shochichah,2010).
Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah (Sukmariah, 1990).
Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya indikator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH. Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indikator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa (Shochichah,2010).



C.    Alat dan Bahan
            1. Alat
Alat yang digunakan dalam percoban ini adalah sebagai berikut:
1.      Buret
2.      Statif dan klem
3.      Erlenmeyer 250 ml 1 buah
4.      Pipet ukur
5.      Filler

             2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      NaOH 0,1 M
2.      Fenolftalein
3.      Asam Oksalat
4.      Asam cuka perdagangan



D.    Prosedur Kerja
            1.      Standarisasi Larutan NaOH
            - Larutan NaOH  dimasukkan kedalam buret hingga 30 ml
                  - Lalu asam oksalat 3 ml dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer
                  - Kemudian ditambahkan 5 tetes indikator fenolftalein
                  - Diitrasi dengan larutan NaOH kemudian diamati
            2.      Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan
                  - Larutan NaOH yang sudah distandarisasi dimasukkan kedalam buret
            - Kemudian larutan asam cuka perdagangan 3 ml dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer
            -   Ditambahkan 5 tetes indikator fenolftalein
            -  Titrasi dengan larutan NaOH yang sudah distandarisasi
            -   Diamati




E.    Hasil Pengamatan
     1.       Tabel Pengamatan
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Standarisasi Larutan NaOH
Dimasukkan 3 ml larutan asam oksalat (C2H2O4) ke dalam labu Erlenmeyer kemudian ditambahkan 5 tetes indikator fenolftalein dan dititrasi dengan larutan NaOH.

Penetapan Asam Cuka Perdagangan
Dimasukkan larutan asam cuka perdagangan ke dalam labu Erlenmeyer sebanyak 3 ml, kemudian ditambahkan 5 tetes indikator fenolftalein kemudian dititrasi dengan larutan NaOH.

Terjadi perubahan warna bening menjadi warna merah jambu dan memerlukan larutan NaOH sebanyak 0,25 ml.




Terjadi perubahan warna bening menjadi warna merah jambu dan memerlukan larutan NaOH sebanyak 1,2 ml.





      2.      Perhitungan
                  a.      Standarisasi Larutan NaOH
                 Dik      : V NaOH = 0,25 ml
                              V C2H2O3 ml
                              Molaritas C2H2O= 10-1
                 Dit       : Konsentrasi NaOH = . . . . ?
                 Peny    : M1 . V         = M2 . V2
                 M1 . 0,25 ml   = 10-1 . 3 ml
                                        M1      = 3.10-1
                                                     25.10-2
                                        M1      = 0,12.101
                                        M1      = 1,2 M
               Jadi konsentrasi NaOH adalah 1,2 M

              b.      Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan
              Dik      : V CH3COOH = 3 ml
                           V NaOH = 1,2 ml
                           M NaOH = 1,2 M
             Dit       : Konsentrasi CH3COOH =  …?
             Peny    : M1 . V1             = M2 . V2
              1,2 M . 1,2 ml   = M2 . 3 ml
                                     M2         = 1,44
                                                         3
                                     M2        = 0,48 M
             Jadi, konsentrasi CH3COOH adalah 0,48 M




F.    Pembahasan
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.
Proses titrasi termasuk asidi-alkalimetri membutuhkan larutan baku dalam metodenya. Larutan baku haruslah distandardisasi terlebih dahulu untuk menentukan konsentrasi yang tepat dari calon larutan baku. Ada pula larutan baku primer, yakni larutan yang dibuat dari bahan baku primer. Bahan baku primer merupakan suatu bahan yang konsentrasi larutannya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan dan volume bahan yang terjadi
Pada percobaan kali ini praktikan melakukan analisa kuantitatif untuk menstandarisasi larutan baku sekunder dengan larutan baku primer. dimana pada percobaan kali ini larutan baku yang digunakan adalah NaOH (natrium hidroksida) dan larutan baku primer C2H2O(asam oksalat).
Sebelum digunakan untuk mentitrasi asam cuka, larutan NaOH ini distandarisasi terlebih dahulu karena NaOH merupakan zat yang mudah terkontaminasi, bersifat higroskopis sehingga mudah menarik uap air dari udara dan juga mudah bereaksi dengan CO2 dalam udara. Di mana pada kedua proses ini menyebabkan penimbangan sejumlah tertentu NaOH tidak akan memberikan kepastian massa yang sesungguhnya, karena jumlah air dan CO2 yang diserap oleh NaOH tidak diketahui dengan pasti. Hal ini mengakibatkan kensentrasi NaOH yang dihasilkan juga tidak tepat. Dengan demikian apabila menggunakan NaOH sebagai pereaksi dalam suatu titrasi maka zat tersebut harus distandarisasi sebelumnya.
Untuk menstandarisasi larutan NaOH ini digunakan 3 ml larutan asam oksalat, larutan ini digunakan sebagai larutan standar primer karena larutan ini tidak bersifat higroskopis dan memiliki berat ekuivalen yang tinggi sehingga dapat mengurangi kesalahan dalam penimbangan zat.
Standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan titrasi menggunakan 5 tetes indikator fenolftalein. Pemilihan indikator felnolftalein karena pada standarisasi ini merupakan titrasi asam lemah (C2H2O4) dan basa kuat (NaOH) sehingga titik ekivalennya diatas 7 dan berada pada trayek indikator fenolftalein.
Pada standarisasi ini NaOH digunakan sebagai titran sementara asam oksalatnya sebagai titrat karena mengingat indikator yang digunakan adalah fenolftalein sehingga ketika PP ditambahkan pada asam oksalat, akan menunjukkan warna bening. Ketika pada titik ekivalen, akan terjadi perubahan dari bening menjadi merah muda. Jika asam oksalat yang digunakan sebagai titran dan NaOH sebagai titrat maka akan terjadi perubahan warna dari merah muda ke bening. Pada dasarnya, perubahan warna dari bening ke merah muda lebih mudah diamati daripada perubahan warna dari merah muda ke beningDan juga penggunaan asam oksalat sebagai titran kemungkinan besar akan menyebabkan kesalahan titrasi yang besar karena terjadi kelebihan penambahan titran hingga melewati titik ekivalen. Kelebihan titran ini disebabkan karena kesulitan mengamati perubahan warna dari merah muda ke bening. Setelah terjadi perubahan warna untuk yang pertama kali, titrasi langsung dihentikan dan NaOH yang berkurang langsung dicatat. NaOH yang berkurang pada percobaan kali ini adalah 0,25 ml, sehingga konsentrasi NaOH dapat diketahui sebesar 1,2 M.
Setelah larutan baku NaOH tersebut sudah diketahui konsentrasinya, maka larutan tersebut sudah dapat digunakan untuk menentukan kadar asam cuka perdagangan. Pada percobaan ini, menetapkan asam cuka perdagangan untuk mengetahui apakah kadar yang tertera pada etiket cuka perdagangan sudah sesuai dengan kadar yang sebenarnya. Analisis dilakukan secara alkalimetri yaitu dengan cara menitrasi larutan asam asetat perdagangan dengan larutan baku NaOH.
Untuk menganalisis asam cuka dalam cuka perdagangan dapat dilakukan dengan titrasi netralisasi. Titrasi ini merupakan titrasi alkalimetri, proses titrasi dengan larutan standar basa untuk mentitrasi asam bebas.
Setelah kita mengetahui normalitas dari larutan NaOH, maka dilakukan langkah selanjutnya yaitu menetapkan kadar asam cuka perdagangan dengan cara mengambil 3 ml asam cuka perdagangan dengan pipet volume, lalu dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer. Kemudian ditambah dengan 5 tetes indikator PP. Larutan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan baku NaOH diatas, hingga diperoleh perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah jambu. Bila sudah terjadi perubahan warna tersebut maka titrasi langsung dihentikan dan catat volume NaOH yang digunakan. NaOH yang digunakan pada penetapan kadar asam cuka perdagangan sebesar 1,2 ml, sehingga konsentrasi asam cuka perdagangan (CH3COOH) dapat diketahui sebesar 0,48 M.






G.     Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Pada proses standarisasi NaOH terbentuk larutan berwarna merah jambu dengan konsentrasi NaOH sebesar 1,2 M.
2.      Pada proses penetapan kadar asam cuka perdagangan terbentuk larutan berwarna merah jambu dengan konsentrasi asam cuka perdagangan sebesar 0,48 M.







DAFTAR PUSTAKA

shochichah, 2010,Standarisasi Larutan NaOH dan Penentuan Asam Cuka Perdagangan,http://shochichah.blogspot.com/2010/04/standardisasi-larutan-naoh-dan.html, 23/10/2011.

Sukmariah, 2009, Standarisasi larutan NaOH, tadriskimia .blogspot. com/standarisasi naoh.htm, 23/10/2011.











STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN KONSENTRASI ASAM ASETA



I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan praktikum ini adalah untuk memahami dan melakukan standarisasi larutan serta menggunakannya untuk analisis kuantitatif sampel.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitaif. Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, di mana volume itu diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini.
Mol = liter x konsentrasi molar atau mmol = mL x konsentrasi molar.
Perhitungan-perhitungan stoikiometri yang melibatkan larutan yang diketahui normalitasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan definisi bobot ekuivalen, dua larutan akan bereaksi satu sama lain dengan tepat bila keduanya mengandung gram ekuivalen yang sama yaitu, jika V1 x N2 = V2 x N2.
Dalam hubungan ini kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua volum, satuan-satuan itu dapat dipilih secara sembarang.
Larutan-larutan yang mempunyai normalitas yang diketahui sangat berguna walaupun hanya satu di antara pereaksi itu yang terlarut. Dalam hal ini jumlah gram ekuivalen (atau miliekuivalen) pereaksi yang tidak terlarut dapat dihitung dengan cara biasa, yaitu dengan membagi massa contoh dalam gram (atau miligram) dengan bobot ekuivalennya. Jumlah g-ek (atau mek) satu pereaksi tetap harus sama dengan g-ek (atau mek) zat yang lain (Brady, 1999).
Volumetri atau tirimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung (Syukri, 1999).
Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetri.
Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:
1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berattertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zatkemudian melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi dapatdistandartkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar skunder.
Zat yang dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan dibawah ini :
1. Mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang diketahuikemurniannya. Pengotoran tidak melebihi 0,01 sampai 0,02 %
2. Harus stabil
3. Zat ini mudah dikeringkan tidak higrokopis, sehingga tidak menyerap uap air,tidak meyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).
Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan berikut :
1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraanyang pasti dari reaktan.
3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna.
4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar
Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warnaPerubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah.
Tabel 1.1 Indikator untuk asam dan basa
Nama
Jangka pH dalam mana terjadiperubahan warna
Warna asam
Warna basa
Kuning metil
2 – 3
Merah
Kuning
Dinitrofenol
2,4 - 4,0
Tak berwarna
Kuning
Jingga metil
3 – 4,5
Merah
Kuning
Merah metil
4,4 – 6,6
Merah
Kuning
Lakmus
6 -8
Merah
Biru
Fenophtalein
8 – 10
Tak berwarna
Merah
Timolftalein
10 -12
Kuning
Ungu
Trinitrobenzena
12 -13
Tak berwarna
jingga
Sumber : Keenan, 1984.
Titrasi asam basa yaitu sebagai berikut:
1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basakuat. Misal : HCl + NaOH NaCl + H2O
2. Titrasi asam lemah dan basa kuat
Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat.
Misal : Asam asetat dengan NaOH
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
3. Titrasi basa lemah dan asam kuat
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat.
Misal : NH4OH dan HCl
NH4OH + HCl NH4Cl + H2O
4. Titrasi asam lemah dan basa lemah
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basalemah. Misal : Asam asetat dan NH4OH
CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O
pH larutan tergantung dari harga Ka dan Kb
Bila Ka > Kb larutan bersifat asam
Bila Kb < Ka larutan bersifat basa (Sukmariah, 1990).
III. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi gelas arloji, gelas beker 100 mL, pengaduk kaca, pipet tetes, pipet ukur, erlenmeyer 100 mL, labu takar 100 mL, dan buret 50 mL.
B. BAHAN
Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini meliputi asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O), larutan standart NaOH 0,1 N, akuades, cuka makan komersial, dan indikator fenophtalein.
IV. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Larutan Standar Asam Oksalat dan Penggunaannya untuk Standarisasi Larutan NaOH.
a. Sebanyak 1,26 gram asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O) ditimbang dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik.
b. Asam Oksalat dipindahkan dari gelas arloji ke dalam gelas beker 100 mL, tambahkan 25-30 mL akuades, kemuadian diaduk hingga larut. Setelah itu gelas arloji dibilas dengan sedikit akuades, dan masukkan air bilasan ke dalam gelas beker yang berisi larutan asam oksalat tersebut.
c. Larutan asam oksalat dipindahkan ke dalam labu takar 100 mL, kemudiam gelas beker dibilas dengan sedikit akuades, air bilasan tersebut dimasukkan ke dalam labu takar.
d. Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tepat tanda batas dan dikocok hingga homogen.
e. Buret yang akan digunakan dicuci dengan menggunakan akuadeskemuadian dikeringkan.
f. Larutan asam oksalat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam buret 50 mL.
g. 10 mL larutan NaOH yang akan distandarisasi dimasukkan kedalam erlenmeyer kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator fenophtalein.
h. Larutan NaOH dititrasi dengan larutan asam oksalat dari buret.
i. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan kemudian dicatat volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi.
j. Dilakukan titrasi kembali sebanyak dua kali dan dihitung rata-rata volume asam oksalat yang digunakan dari tiga kali titrasi yang telah dilakukan
2. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka Komersial.
a. 2 mL asam cuka komersial dituangkan kedalam labu takar 250 mL denganmenggunakan pipet ukur.
b. Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas kemudian labu takar tersebut ditutup dan dikocok hingga larutan homogen.
c. 15 mL asam cuka yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL, kemudian sebanyak 2-3 tetes indikator fenophtalein ditambahkan kedalam larutan tersebut.
d. Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades kemudian dikeringkan.
e. Larutan standart NaOH 0,1 M yang telah distandarisasi di masukkan ke dalam buret.
f. Larutan asam cuka encer dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 M dalam buret.
g. Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan dan dicatat volume NaOH yang digunakan.
h. Dilakukan kembali titrasi sebanyak tiga kali dan dihitung volume rata-rata yang digunakan saat titrasi.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Perhitungan
1. Hasil
No.
Percobaan
Pengamatan
1.
2.
- Ditambahkan 2 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi NaOH
- Dititrasi larutan NaOH dengan larutan asam oksalat yang ada di dalam buret.
- Perubahan warna.
- Asam cuka didalam gelas ukur.
Diencerkan asam cuka didalam labu takar dengan akuades.
- Ditambahkan 2 tetes indikator fenoftalein ke dalam erlenmeyer yang berisi asam cuka encer.
- Dititrasi larutan asam cuka encer dengan larutan standar NaOH 0,1 M didalam buret.
- Perubahan warna yang terjadi.
Volume NaOH = 10 mL
Volume titrasi = 4,9 mL
Ungu menjadi bening
Volume = 10 mL
Volume = 250 mL
Volume = 10 mL
Volume titrasi = 0,45 mL
Bening menjadi ungu
2. Perhitungan
I. Standarisasi Larutan NaOH
Konsentrasi Larutan Asam Oksalat
Diketahui : Massa asam oksalat = 1,26 gr
Mr asam oksalat = 126 gr
Volume larutan asam oksalat = 100 mL = 0,1 L
Molaritas asam oksalat =(massa asam oksalat/ Mr asamoksalat)
= Volume larutan asam oksalat
= (1,26/126) mol = 0,1 mol/L
= 0,1 L
Ditanya : Normalitas asam oksalat = ………?
Jawab : H2C2O4 2HC2O4-
Normalitas asam oksalat = n. M
= (2 ek / mol) x (0,1 mol/L)
= 0,2 ek/L
Penentuan Konsentrasi NaOH
Diketahui : Volum NaOH saat titrasi = 10 mL
Volum rata-rata asam oksalat saat titrasi = 4,9 mL
Normalitas asam oksalat = 0, 2 ek/L
Pada saat titik ekuivalen
(N.V)asam = (N.V)basa
(N.V)oksalat = (N.V)NaOH
0,2 ek /L. Voksalat = NNaOH. 10 mL
NNaOH = 0,2 ek/L. 4,9 mL
10 mL
= 0,098 N ≈ 0,01 N
b. Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka
Diketahui : Volum asam asetat yang dititrasi = 10 mL
Volum rata-rata NaOH untuk titrasi = 0,45 mL
Normalitas NaOH digunakan untuk titrasi = 0,098 N
Ditanya : Normalitas asam asetat yang dititrasi = …………..?
Jawab : Pada saat titik ekivalen titrasi
jumlah ekuivalen asam = jumlah ekuivalen basa
(N.V)asam = (N.V)basa
N asetat .Vasetat = N NaOH . VNaOH
N asetat . 10 mL = 0,098 . 0,45
asetat = 0,098 . 0,45
10
N asetat = 0,00441 mol/L
= 4,41 x 10-3 mol/L
Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat = 1 ek/mol, sehinngga :
CH3COOH CH3COO- + H+
Masetat = Nasetat / n
= 4,41 x 10-3 /1
= 4,41 x 10-3 M
Karena pengenceran yang dilakukakn sebanyak 50x maka konsentrasi asam asetat setelah diencerkan dapat dihitung sebagai berikut;
4,41 x 10-3 x 50 = 0,2205 N
Konsentrasi asam asetat sebelum diencerkan dapat dihitung sebagai berikut;
(M.V) sebelum pengenceran = (M.V) setelah pengenceran
sebelum pengenceran = Masetat. (250 mL / 10 mL)
= 0,2205 x (25)
= 5,5125 M
Konsentrasi asam asetat dinyatakan dalam persentase (b/v) adalah
%CH3COOH (b/v) = Masetat x Mrasetat x (1L/1000 mL) x 100
= Masetat (M).60 (gr/mol) x (1L/1000 mL) x 100
5,5125 x 60 (1/1000) x 100
= 33,075 % (b/v)
Jadi, konsentrasi asam asetat 33,075 gr dalam 100 mL pelarut air.
B. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini kita melakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar asam asetat dalam asam cuka komersial, yang beredar di pasaran. Di mana pada percobaan ini digunakan asam cuka botol cap sendok. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volum pereaksi (konsentrasi diketahui). Penggunaan analisi tirimetri ini menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standarnya. Karena NaOH merupakan larutan standar sekunder, maka sebelum digunakan terlebih dahulu larutan NaOH tersebut distandarisasi dengan larutan asam oksalat yang merupakan suatu standar primer.
Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa antara asam oksalat dan larutan standar NaOH 0,1 N dan asam asetat dengan larutan standar NaOH. Pada pembuatan larutan standar asam oksalat indikator yang digunakan yaitu fenophtalein. Perubahan warna yang terjadi pada proses penitrasian ini adalah berubah menjadi bening dengan warna asal mula adalah ungu. Jangka pH pada saat terjadi perubahan warna adalah berkisar antara 8-10. Perubahan warna ini terjadi karena telah tercapainya titik ekuivalen, yaitu titik di mana jumlah larutan standar NaOH dengan larutan asam oksalat. Volume larutan asam oksalat yang diperlukan untuk titrasi sebanyak 4,9 mL.
Pada penentuan Konsentrasi asam asetat terjadi reaksi antara asam lemah (CH3COOH) dengan basa kuat (NaOH). Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat sebesar 1 ek/mol.
Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah :
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Pada proses penitrasian antara asam asetat dengan larutan standar NaOH 0,1 M terjadi perubahan warna dimana setelah ditetesi indikator fenophtalein sebanyak 2 tetes warna yang terjadi yaitu bening menjadi berwarna ungu. Seperti halnya dengan titrasi di atas, perubahan warna ini terjadi pada pH dengan kisaran 8-10. Penyebab perubahan warna ini karena telah terjadi pencapaian titik ekuivalen. Volume NaOH yang diperlukan pada saat titrasi sebanyak 0,45 mL.
Pada penentuan konsentrasi NaOH didapat normalitas NaOH sebesar 0,098 N, sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas asetat sebesar 4,41 x 10-3 N. Setelah itu nilai ini digunakan untuk mencari konsentrasi asetat sebelum pengenceran maka didapat hasil sebesar 5,5125 M. Konsentrasi asam asetat yang dinyatakan dalam persentase sebesar 33,075 %.
VII. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Standarisasi larutan bertujuan untuk menetukan konsentrasi dari larutan standar.
2. Pada penentuan konsentrasi NaOH didapatkan normalitas NaOH sebesar 0,098 N, sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam asam cuka didapat normalitas asetat sebesar 4,41 x 10-3 N.
3. Persentase asam asetat cap sendok sebesar 33,075 %.
4. Analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai berapa banyak komposisi suatu komponen dalam sampel.
DAFTAR PUSTAKA
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran edisi 2. Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Syukri.1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung




0 komentar:

Poskan Komentar